Archive for the ‘art’ Category

  Ia mendengar kisah penangkapan kakeknya, seorang seniman dalang yang mengabdikan dirinya pada tradisi pewayangan. Ia pun tahu bahwa kakeknya diciduk gara-gara dituduh sebagai PKI. Hanya satu yang ia tidak tahu, kisah dibalik peristiwa itu.

By Ade Tanesia    “In 1998, Indonesia was enveloped in an inferno of social tensions so intense that it led to bloodshed for a number of ethnic and religious groups. Since then I have felt like a “londo” [derogatory Javanese term for a white person] in this country.”

Reflecting on the insignificant

Posted: February 6, 2009 in art

The Jakarta Post, Sunday, December 28, 2008 12:25 AM Ade Tanesia, ,  Contributor, ,  Yogyakarta   Routine activities are seldom considered significant, yet artist Surya Wirawan sees the higher value of his day-to-day experiences, giving them new life in his artwork. In his work, on display at the Kedai Kebun Forum in Yogyakarta until Dec. [...]

“Kenapa sih harus membedakan ini perempuan dan ini laki-laki.” “Ah, jangan-jangan isu diskriminasi terhadap perempuan hanya persoalan yang dibuat-buat saja oleh perempuan itu sendiri.” Atau….. “perempuan terlalu bawel untuk meminta haknya, dan ingin selalu diistimewakan.” Dstnya……

another art is possible

Posted: August 15, 2008 in art

Menjadi seniman butuh sebuah keberanian. Untuk percaya bahwa sesuatu yang tiada, akan menjadi ada. Kelompok Sepi (Seniman Pinggiran) yang menempuh karir berkeseniannya tanpa melalui “jalur” umum, seperti melalui Institusi Seni Rupa Indonesia, tetap mempunyai keteguhan bahwa keseniman bukan hanya milik sekelompok orang. Seni rupa adalah sebuah wilayah yang paling demokratis untuk dimasuki. Arena yang memperbolehkan [...]