Jogja terguncang pada 5 November 2010. Merapi meletus begitu dashyat, menaburkan hujan abu hingga ke seantero pulau Jawa. Di tengah kepanikan itulah, aku harus pergi ke Argentina untuk menghadiri Konferensi Asosiasi Radio KOmunitas Se-Dunia (AMARC X) di Kota La Plata. Sebuah rencana yang telah disusun rapih. Dengan tiket di tangan, aku harus menembus hujan abu ini. Sungguh perjalanan jauh yang begitu berat, karena harus meninggalkan Jogja, keluarga, berikut kekhawatiran akan ancaman selanjutnya yang tak bisa kita prediksi.
Akhirnya 5 November malam, anak-anak dipindahkan ke Gombong yang hujan abunya relatif tidak terlalu deras. Dan aku pun melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk berangkat ke Argentina. Tim dari INdonesia ada 6 orang. Lumayan masih ada teman sebangsa.
Sabtu malam, 6 November, bandara Soekarno Hatta begitu lengang. Ternyata hampir seluruh penerbangan internasional dan domestik menunda keberangkatan pesawatnya karena abu merapi telah sampai ke jakarta. Hanya 2 pesawat yang berani berangkat, Qatar dan Garuda. Dengan segala kenekatan yang ada, akhirnya pesawat Qatar berhasil mendarat dengan selamat di bumi Qatar, jazirah Arab. Total waktu 9 jam.
Masih ada perjalanan selama 16 jam lagi di pesawat. Melewati Mekkah, benua Afrika, dan menyeberang ke benua amerika. Penat dan sungguh kebosanan tiada tara ini bisa diselesaikan dengan antimo (thanks to Antimo). Setelah transit selama 2 jam di Brazil, kami pun sampai di Buenos Aires pada sore hari. Perjalanan ke tempat konferensi masih memakan waktu satu jam lagi. La Plata, sebuah kota tua yang sarat peninggalan penjajahan Spanyol adalah tujuan terakhir.
Menginjak La Plata
La Plata cukup dingin di bulan November. Inilah tempat bersejarah bagi pendukung Peroneze, yaitu para pengikut fanatik Evita Peron yang terkenal dengan lagu berjudul “Don’t Cry for Me Argentina.” Tiba pada malam hari, keesokan harinya saya dan teman-teman dari Indonesia langsung menuju gedung pusat kebudayaan yang sangat artistik. Di tempat itulah, konferensi AMARC X digelar.
Konferensi yang dibuka pada tanggal 8 November 2010 ini dihadiri lebih dari 500 peserta dari 87 negara yang terdiri dari praktisi radio komunitas dan berbagai pemangku kepentingan. Inilah untuk pertama kalinya AMARC menyelenggarakan konferensinya di Amerika Selatan. Untuk AMARC, penyelenggaraan ini sangat penting mengingat sejarah perjuangan radio komunitas dimulai di Bolivia, salah satu negara di Amerika Latin.
Berbagai tema diangkat dalam konferensi ini, diantaranya hak masyarakat berkomunikasi untuk menciptakan kondisi dunia lebih baik sampai dengan peran radio komunitas dalam perubahan iklim, kesetaraan jender, pengelolaan bencana, resolusi konflik, bahasa yang tersingkirkan, perjuangan masyarakat asli, dan lain-lain. Dalam konferensi ini, saya sendiri terlibat sebagai komentator dalam sesi panel diskusi mengenai peran radio komunitas dalam pengurangan resiko bencana. Selain itu juga memberikan presentasi mengenai peran radio komunitas dalam membangun perdamaian di wilayah konflik.
Hampir selama seminggu di La Plata, kegiatan saya hanya berkutat antara hotel dan tempat konferensi. Saat berjalan kaki untuk pergi dan pulang dari ruang konferensi saya bisa sedikit menikmati kota La Plata. Mengamati karya graffiti dan stensil di sepanjang trotoar. Terkaget-kaget dengan pasangan yang begitu ekspresif berpacaran di ruang-ruang publik. Terheran dengan anak-anak kecil yang mencari uang dengan ngelap kaca mobil saat lampu merah. Situasi yang mengingatkanku akan Jakarta. Yang menarik setiap minggu ada pasar tiban di taman kota. Segala benda bisa didapatkan di pasar itu. Dari mulai kerajinan tangan unik sampai yang jualan anjing dan kucing. Saya melihat bagaimana taman kota menjadi tempat rekreasi murah bagi keluarga. Ada kelompok yang membawa alat musik dan mulai menari tango. Hmm begitu romantisnya kota ini. Warga Argentina nampaknya sangat menyukai ruang publik yang dioptimalkan betul untuk kegiatan bersama. Menjelang sore hari, taman kota akan begitu riuh dengan anak-anak dan orang tuanya untuk bermain bersama. Inilah suasana yang saya tangkap saat berjalan pergi dan pulang ke gedung konferensi.

Nah, di malam hari, terutama malam minggu, kafe-kafe kecil ramai sekali. Tinggal pilih, mau mendengarkan musik jazz, blues, latin, bisa ke sederetan kafe/pub tersebut. Orang Argentina memang suka pesta, dan kalau sudah joget bareng tiba-tiba serasa nonton pertandingan sepak bola berikut yel-yelnya. Seru sekali ! Di hari terakhir konferensi, kita diajak ke “Community Centre” di Buenos Aires. Namanya Commandor Los Pibes. Saya akan kisahkan sedikit tempat ini.
Commandor Los PIbes
Comedor Los Pibes terletak di La Borca, Buenos Aires. Mereka mulai sekitar 15 tahun silam dengan kegiatan memberikan makan pada orang miskin. Saat itu sedang terjadi krisis ekonomi di Argentina yang mengakibatkan jumlah penduduk miskin meningkat tajam. Tujuan utama mereka adalah menyediakan makan siang untuk komunitas miskin yang ada di kawasannya.
Saat itu komunitas ini percaya bahwa dengan kebersamaan dan saling bantu antarwarga maka kemiskinan bisa teratasi. Dalam kondisi yang sangat susah, mereka sepakat bahwa tidak boleh ada penurunan kualitas gizi pada warga miskin. Akhirnya mereka mencoba berkonsolidasi agar tetap dapat menyediakan makanan yang baik bagi orang miskin.
Hingga sekarang Comedor Los Pibes telah menolong lebih dari 120 keluarga di pemukiman paling kumuh di La Boca. Tidak sekadar memberikan makan, kini mereka juga membangun pabrik tekstil bagi warga yang tidak punya pekerjaan. Juga sekolah untuk anak-anak dan orang dewasa serta yang kini sedang dirintis adalah radio komunitas. Komunitas ini sangat percaya bahwa dengan sistem yang mereka jalankan maka persoalan kemiskinan bisa dipecahkan.
Mereka pun menolak segala praktek akumulasi modal pada segelintir orang yang menyebabkan kemiskinan di berbagai tempat. Metode perlawanan mereka tidak hanya dengan menciptakan sistem yang adil bagi komunitas, tetapi juga melakukan demonstrasi untuk mengubah kebijakan.

Satu minggu saja meletakkan pikiran dan tubuh di Argentina sudah menjadi pengalaman tak terlupakan. Kebudayaan, semangat egaliter yang saya rasakan di berbagai ruang, kehidupan malamnya, ekspresinya, membuat siapapun ingin kembali. Meskipun harus menempuh perjalan 25 jam di atas pesawat. *** (Ade Tanesia)








