Jalan Panjang Adil Jender pada Radio Komunitas

Posted: August 11, 2011 in Uncategorized

“Saya aktif mengelola radio komunitas. Tapi karena sering pulang malam, saya sering dicap negatif sama komunitas sekitar,” ungkap Lilik Kamina dari Radio Komunitas Suara Porong, Sidoarjo. Lain lagi kisah Mariani dari Darsa FM, Aceh. Sejak diberlakukan hukum Syariah maka kini kegiatan perempuan hanya dibatasi sampai sore. Juga untuk kegiatan radio, sangat riskan bersiaran dengan pria dalam satu studio.

Akhirnya perempuan harus mencari rekannya, dan tidak jarang siaran mereka terhambat karena tidak piawai mengoperasikan alat.”Pria lebih banyak siaran malam hari. Padahal kami sering tergantung dengan mereka dalam hal alat,” ungkap Mariani saat diskusi mengenai pengarusutamaan jender di Kongres JRKI ke-2 di Bandung. Salsa dari K FM Magelang juga mengungkapkan bahwa tafsir agama sering menghambat perempuan. Misalnya sempat ada tafsir bahwa suara perempuan adalah aurat, sehingga mereka tidak boleh bersiaran. Tetapi menurut Salsa, untungnya tafsir itu tidak menjadi perdebatan publik dan sudah bisa diselesaikan secara internal antara radio dan pihak agamawan. Lain lagi dengan Siti Maryam dari Caraka FM, Majalengka. Untuk antisipasi pandangan negatif masyarakat, akhirnya studio radio dipindah ke rumahnya agar keluarganya juga merasa nyaman.

Inilah beragam hambatan yang dirasakan perempuan ketika mereka aktif di ranah publik seperti media komunitas. Dalam pelatihan “pengarusutamaan jender pada radio komunitas” di Jogjakarta pada 27-29 Juli lalu, sekitar 11 radio komunitas dari Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY mengungkapkan adanya hambatan kultural dalam melibatkan perempuan dalam radio komunitas. Siti Maryam misalnya mengungkapkan bahwa ada keengganan dari anggota radio komunitas untuk mengangkat masalah kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan. Menurut mereka hal ini merupakan urusan rumah tangga orang lain dan masih tabu untuk diangkat ke publik. Padahal pemerintah sendiri sudah mensahkan UU untuk KDKRT sehingga masalah ini menjadi tanggung jawab bersama masyarakat. Suara Porong FM yang diwakili oleh Lilik Kamina juga mengalami hal yang sama,yaitu pelabelan negatif. Namun saat ia bisa membuktikan dirinya dalam Kartini Award yang diselenggarakan oleh kecamatan, maka warga sekitar bisa memahami alasan dari keaktifan dirinya selama ini.”Memang kita tidak bisa mengatakan bahwa keaktifan di radio komunitas hanya karena senang belaka. Masyarakat agar beranggapan masih banyak yang lebih penting dikerjakan daripada hobi itu. Tapi kalau kita sudah membuktikan diri, maka mereka bisa menerima,” ungkap Lilik Kamina. Ini sangat menarik, karena kebanyakan pria yang terlibat dalam radio komunitas didasari oleh rasa senang dan hobi. Tetapi bagi perempuan harus ada alasan yang lebih dari sekadar hobi untuk bisa direstui oleh lingkungan sekitarnya.

Konstruksi budaya bahwa peran perempuan di wilayah domestik masih sangat kental di berbagai daerah,terutama level kecamatan dan desa. Novik Ahmad dari KBT FM, Sidoarjo mengisahkan bahwa perempuan di Porong sangat aktif dalam memperjuangkan nasibnya sebagai korban lumpur Lapindo. Tetapi mereka tidak pernah dilibatkan saat ada pertemuan dengan pihak pemangku kepentingan seperti pemerintah. Padahal kebanyakan aset yang hilang akibat lumpur adalah perempuan, tetapi mereka tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan ganti rugi asset. Fenomena ini merupakan contoh nyata bagaimana perempuan telah mengalami proses marjinalisasi untuk memecahkan persoalan yang sebenarnya sangat krusial dalam kehidupan mereka.

Namun tidak semua radio komunitas mengalami hambatan dalam melibatkan perempuan. Sebagai contoh Ruyuk FM di Tasik Malaya.  “Awalnya memang perempuan sangat sulit diajak terlibat, tetapi setelah kita dekati perlahan-lahan, mereka sangat bersemangat dan sekarang malah radio Ruyuk FM didominasi oleh perempuan. Ada bias jender pada laki-laki,”ungkap Sandi sambil bergurau. Hal yang menarik untuk dicermati adalah strategi Ruyuk FM untuk melibatkan perempuan. Ternyata mereka secara intens mendekati kelompok-kelompok perempuan yang ada di desanya seperti kelompok PKK, arisan, pos yandu, dan lain-lain. Melalui kelompok inilah, perempuan lebih mudah untuk terlibat serta direstui oleh suaminya.

Untuk menjadi radio komunitas sebagai corong bagi suara perempuan lokal memang membutuhkan perjuangan dari pengelolanya. Jika visi sudah tertanam, maka perwujudannya sebenarnya tidak terlalu sulit. Apalagi perempuan sendiri adalah pendengar setia dari radio komunitas. Mengajak berbagai kelompok perempuan merupakan salah satu cara yang efektif. Kemudian berjejaring dengan lembaga-lembaga lain, seperti puskesmas, juga sangat penting untuk memberikan informasi khusus mengenai kesehatan perempuan dan anak. Mengapa radio komunitas menjadi saluran informasi yang masih efektif bagi perempuan? Pertama karena radio komunitas adalah media yang bisa didengarkan sembari mengerjakan hal lain. Perempuan bisa dengan mudah memutar radio selagi memasak. Bahkan sekarang radio bisa didengar lewat telepon seluler sehingga tidak perlu lagi berebutan saluran dengan anggota keluarga lain. Radio komunitas juga memungkinkan perempuan menjadi produsen informasi, bukan sekadar konsumen.(Ade Tanesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s