Sabtu, 9 Juli 2011, Ruang Nakula Dewa, Hotel Melia Purosani, penuh oleh para blogger yang bukan hanya dari Jogjakarta, tetapi juga dari Surabaya, Kebumen, Solo, dan kota lain di Jawa Tengah. Acara yang digelar oleh Kementerian Luarnegeri RI ini hendak memperoleh masukan dari para blogger, sebagai bagian dari lapisan masyarakat, mengenai perkembangan kerjasama ASEAN di bidang ekonomi dan sosial budaya.
Sejak tahun 15 Deseber 2008, ASEAN telah berorientasi pada kepentingan rakyat untuk menuju terbentuknya Komunitas ASEAN 2015. Menurutku sendiri, konsep Komunitas ASEAN masih terlalu absurd oleh masyarakat di Indonesia. Oleh karena kita sendiri masih punya masalah tentang ”menjadi” Indonesia yang kemudian terkait dengan besarnya hambatan transformasi ideologi bangsa ke generasi muda. Lalu bagaimana kita bisa memaknai sebuah konsep Komunitas ASEAN ?
Menurut saya, kesadaran akan komunitas ASEAN merupakan bagian tak terpisahkan dari persiapan lahirnya pasar tunggal ASEAN. Lalu apa artinya pasar tunggal ASEAN? Dr. Anggito Abimanyu dengan tajam menjelaskan bahwa kelak perdagangan antarnegara ASEAN demikian mudahnya. Bayangkan, kita bisa jual produk ke malaysia atau Thailand dengan cara semudah menjualnya ke kota lain di Indonesia. Menurut beliau, pasar tunggal ini akan bisa sangat menguntungkan indonesia. Pertama, karena target pemasarannya bisa lebih luas (tidak hanya domestik), kedua, dalam perdagangan bebas ini maka akan terjadi persaingan untuk memperoleh harga termurah.Untuk yang terakhir ini, Indonesia sangat potensial karena tenaga kerja masih relatif murah dan bahan baku yang tersedia sangat melimpah. Dalam tulisan Pamungkas Ayudhaning Dewanto berjudul “Menanti Perdagangan Bebas AS-ASEAN” (Kompas, 23/07/11), disebutkan bahwa ekspor non migas Indonesia ke China memang meningkat yang mencapai 1,81 miliar dollar, tetapi sayangnya barang yang dieskpor masih bahan baku untu industri pengolahan. Artinya industri pengolahan Indonesia masih sangat rendah, dan justru mendorong perkembangan industri negara lain yang kelak produknya di lempar ke Indonesia lagi. Lalu pertanyaannya adalah apakah Indonesia siap menghadapi pasar tunggal ASEAN?
Dalam sarasehan ini, dihadirkan Sdr. Iman Brotoseno yang memaparkan pentingnya pengembangan potensi industri kreatif di Indonesia. Beliau yang terjun secara intens dalam dunia periklanan mengungkapkan bahwa di tahun 1990an, dunia periklanan Indonesia masih banyak menggunakan sumber daya dari luar negeri seperti India, Philipina, dll. Sebaliknya, sekarang semakin banyak orang Indonesia yang menduduki posisi strategis. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas di bidang industri kreatif. Sebagai contoh, perajin di Indonesia sebenarnya telah memiliki keterampilan yang bagus, tetapi perlu pengembangan dalam hal desain produk. Kreativitas inilah yang akan menjadi salah satu modal bagi indonesia bersaing di pasar tunggal ASEAN. Seiring dengan presentasi Iman Brotoseno, sarasehan ini merasa perlu untuk membangun kesadaran mengenai HAKI, mengingat Indonesia masih dianggap sebagai negara pembajak terbesar. Soal HAKI memang terjadi menjadi perdebatan sengit. Di satu sisi, kebanyakan peserta blogger masih berpihak pada pentingnya keterbukaan yang kini telah diakomodir lewat Creative Common. Salah satu peserta diskusi, Elanto Wijoyono mengatakan bahwa HAKI berpotensi mematikan perkembangan peradaban. Bayangkan saja, jika dulu sudah ada HAKI maka tidak mungkin kita sekarang mengenal wayang versi Jawa, atau beragam batik dari setiap daerah. Oleh karena itu, HAKI memang sangat menguntungkan untuk beberapa negara tertentu, tetapi bisa jadi sangat merugikan bagi negara lain. Duta Besar RI, Bapak Hazairin Pohan pun mempertanyakan apakah produk komunal yang dimiliki oleh masyarakat bisa diakomodir dalam sistem HAKI yang ada sekarang? Karena HAKI lebih diterapkan pada hak individu. Sebenarnya jika waktu lebih lama, pertanyaan lanjutan dari sarasehan ini adalah apakah pasar tunggal ASEAN bisa menciptakan sebuah sistem HAKI yang sesuai dengan kondisi sosial dan kultur masyarakat ASEAN ?
Pada titik inilah kerjasama sosial dan budaya di tingkat masyarakat akar rumput menemui konteksnya. Diperlukan sebuah basis relasi yang kuat antara komunitas ASEAN, yang bisa dibangun melalui para blogger. Negara-negara ASEAN memiliki berbagai persoalan bersama, seperti bencana alam, buruh migran, virus menular, konflik, pendidikan, dan lain-lain. Dibutuhkan sebuah solidaritas dalam bentuk tukar pikiran, pengalaman, dan rasa untuk menghadapi hal ini. Oleh karena masalah ekonomi yang hendak diwujudkan dalam pasar tunggal ASEAN tidak terpisah dari kondisi sosial budaya. Sebagai contoh,bagaimana mungkin bisa terjadi transaksi ekonomi jika sebuah kawasan masih didera oleh konflik.
Pada tahun 2009, saya berkesempatan untuk menghadiri sebuah seminar mengenai Thailand Selatan di Tokyo, Jepang. Saya bertemu dengan aktivis Pattani yang membangun media alternatif online bernama “Deep South Watch.” Dalam seminar itu dibahas soal dukungan media dari Asia Tenggara, terutama media komunitas untuk kampanye persoalan kekerasan yang terjadi di Thailand Selatan. Masyarakat Pattani yang berada di Thailand Selatan memiliki agama dan kebudayaan yang amat berbeda dengan mayoritas warga Thailand. Inilah akar masalah yang telah berlangsung lama, dan berakhir dengan tindak kekerasan antara pemerintah Thailand dan munculnya kaum gerilyawan yang berjuang untuk kemerdekaan Pattani. Lalu dalam seminar itu, wakil dari masyarakat Pattani mengatakan bahwa sedikit sekali dukungan terhadap kondisi mereka, karena citra Thailand selatan yang sudah terbangun adalah identik dengan teroris, Islam garis keras, dan lain-lain. Dalam konteks ini, masyarakat Pattani butuh dukungan solidaritas dari media alternatif di asia tenggara untuk mendukung terjadinya perdamaian. blogger bisa berpartisipasi untuk membangun gerakan perdamaian di kawasan asia tenggara.
Potensi kerjasama juga sangat penting di bidang kebencanaan. Jalin Merapi, yang kembangkan sistem informasi konvergensi untuk penanganan bencana erupsi merapi bisa menjadi contoh baik dimana melalui sosial media telah terbangun solidaritas bukan hanya dari masyarakat Indonesia, tetapi juga dari relawan di negara ASEAN. Saya optimis, ketahanan masyarakat ASEAN dalam menghadapi krisis pangan dan bencana alam bisa tertangani jika terjadi sebuah gerakan bersama pada masyarakat akar rumput. Sungguh, komunitas ASEAN bukanlah sesuatu yang absurd, tetapi berada pada konteks persoalan yang nyata. Apakah blogger sebagai pendukung -bukan hanya pasar terbuka-, tetapi juga masyarakat terbuka, berani membangun sebuah sistem ekonomi yang menyejahterakan masyarakat ASEAN. Juga membangun bangunan sosial dan budaya yang berpihak pada keadilan masyarakat? Di sinilah blogger menemui peran strategisnya. *** (Ade Tanesia)