Rabu Abu

Tidak seperti rabu biasanya, hari ini, 25 Februari adalah hari rabu abu. Sebuah masa pra-paskah, masa pertobatan, masa berpantang, untuk mempersiapkan diri untuk kebangkitan Kristus dan penebusan dosa kita, manusia.

Hari ini pula, aku meminta kepada Tuhan agar hatiku bisa menghayati masa-masa awal Kristus menghadapi sengsaraNya menuju Salib. Tahun-tahun sebelumnya, aku tidak pernah peduli dengan hari rabu abu. Tetapi saat ini, aku mencoba untuk merasakannya dan bersiap untuk beribadah ke Gereja di sore hari. Untukku, inilah hari yang telah disediakan oleh seluruh umat Kristen di dunia untuk melewatinya bersama. Namun hingga siang hari, hatiku belum merasakan apapun. aku tidak mampu untuk merasakan sejarah itu dalam relung-relung hatiku yang kemudian membuka tabir diriku di hadapan Kristus. aku terus berdoa agar Tuhan mengizinkan aku untuk merasakan hari yang telah Dia berikan kepada manusia. walaupun hanya sekejap. lalu…..aku lihat lagi hatiku….masih kosong dan beku. namun tiba-tiba aku dihantar ke situasi akumulasi masa-masa gelap dalam diriku. Saat itulah aku merasakan bahwa hanya Kristus yang menopang aku, menemaniku. Ia lah yang paling merasakan malam-malam gelap kehidupanku. Sendi-sendi tubuhku pun mulai terasa lemas untuk mengingat kepingan-kepingan yang meremukkan hati. 

Hari ini belum lagi selesai…..aku rasakan serpihan diriku yang terpecah. Dan kengerian yang paling dalam kenyataanku ialah ketika aku tidak mampu mencintaiNya. Dan aku pun hanya bisa berbisik….aku ingin mencintaiMu, Tuhan Yesus, dengan cinta yang membara. Cinta yang membuat diriku merasa cukup untuk segalal hal. MencintaiMu, sehingga hanya dengan itu aku bisa tetap berdiri untuk menjalani hidup ini. 

ade tanesia

~ by adetanesia on February 25, 2009.

Leave a Reply