another art is possible

Menjadi seniman butuh sebuah keberanian. Untuk percaya bahwa sesuatu yang tiada, akan menjadi ada. Kelompok Sepi (Seniman Pinggiran) yang menempuh karir berkeseniannya tanpa melalui “jalur” umum, seperti melalui Institusi Seni Rupa Indonesia, tetap mempunyai keteguhan bahwa keseniman bukan hanya milik sekelompok orang. Seni rupa adalah sebuah wilayah yang paling demokratis untuk dimasuki. Arena yang memperbolehkan setiap orang untuk berlaga tanpa harus berakhir dengan kalah atau menang.

 

Sepuluh tahun bagi Kelompok Sepi bukanlah waktu yang pendek untuk mengasah kreativitas dan mempertahankan eksistensinya di percaturan seni rupa Indonesia. Selama satu dekade itu mereka bergulat antara kehidupan kesehariannya dengan keseniannya. Hal yang menarik adalah untuk menandai 10 tahun keberadaannya, mereka terinspirasi oleh  perubahan bentuk komunikasi yang telah mengubah relasi manusia di sepenjuru dunia ini. *010# merupakan kode-kode dari alat komunikasi telepon genggam yang perkembangannya begitu pesat selama 10 tahun terakhir ini. Teknologi telepon genggam yang memungkinkan orang untuk mengisi energi, selalu mengisi ulang pulsanya untuk melakukan komunikasi menjadi sebuah analogi bagi hidup berkesenian. Bagi kelompok sepi, kesenian merupakan praktek  mengisi energi  senimannya untuk mempunyai motivasi berkarya yang kemudian dilanjutkan dengan selalu  mengisi ulang atau memaknai ulang pengalaman hidupnya.  Inilah karya-karya hasil isi ulang terus menerus yang diyakini oleh para seniman Kelompok Sepi.

 

Dari dua puluh satu perupa yang mengikuti pameran ini, saya melihat kecenderungan tema yang diangkat adalah respons terhadap persoalan dampak teknologi pada alam dan kehidupan manusia.Karya Nurbaito berjudul “Perubahan Tanpa Batas” menegaskan kondisi yang sedang berjalan dalam kehidupan umat manusia. Teknologi hasil temuan manusia tidak hanya membawa perubahan yang baik, tetapi justru telah memupuskan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Teknologi yang digunakan dengan ekspolitasi tanpa batas justru akan menghancurkan masa depan generasi mendatang. “Instant Transformation” karya Ouda Teda Ena juga menggambarkan sebuah kecepatan  transformasi budaya global ke dalam ruang-ruang hidup kita hari ini. Begitu cepat, sehingga sering kali  kehilangan arah tentang siapa diri kita dalam sebuah konteks budaya tertentu. Budaya global yang diserap bukanlah untuk menyatukan bahwa hakekat kita sebagai manusia Indonesia sama dengan manusia di Afrika sana hingga seharusnya tidak boleh ada praktek rasisme di bumi ini. Tetapi kesamaan antarmanusia itu hanya disebabkan karena manusia di Indonesia dan di Kutub kini sama-sama minum cocacola, makan Mc Donald, menggunakan telepon genggam merk nokia, dan seterusnya. Tragis bukan ? Tidak ada gunanya sama sekali !

 

Perubahan itu juga berdampak pada sumber daya alam yang ada di bumi ini.  Bambang R dengan karya berjudul “S.O.S” menggambarkan pembabatan hutan yang dilakukan oleh manusia. Sangat menarik bahwa hutan itu ditaruh sebagai rambut perempuan yang sedang digunduli. Hal ini menggambarkan bahwa hutan dan manusia sebenarnya satu kesatuan yang tak terpisahkan. Penggundulan hutan sama saja membunuh kehidupan manusia itu sendiri. Sehingga ekspresi  perempuan yang ada dalam lukisan itu sangat getir. Karya Surachman berjudul “Save Our Natural Resources” dan karya Nur Hidayat berjudul “Monster Bumi” menggambarkan kondisi bumi yang semakin rentan karena telah tereksploitasi habis-habisan. Penyelamatan sumber daya alam terlihat sebagai upaya mengumpulkan kembali serpihan-serpihannya yang tengah sekarat. Dari kedua karya ini, lalu aku melihat konteks Indonesia di dalam karya Budiyana dengan judul “Menjahit Indonesia”.  Indonesia adalah negeri kaya yang kini tengah sekarat karena kekayaan alamnya telah dijarah habis-habisan di depan rakyatnya sendiri. Sering kali aku bertanya mengapa negeri yang kaya ini menjadi miskin ? dan kini semakin menukik ke jurang kehancuran. masih adakah harapan ? Selain tetek bengek kerusakan mental para penguasa dengan seabreg korupsinya, Indonesia juga tidak bisa dipisahkan dari kondisi ketimpangan dunia akibat globalisasi sistem perekonomian. Perusahaan-perusahaan transnasional yang kebanyakan milik negara-negara maju kini semakin mencengkeram negara-negara seperti Indonesia dengan menerapkan aturan-aturan perdagangan dunia yang semakin menyengsarakan umat manusia. Negara-negara yang ketergantungannya tinggi seperti Indonesia dipaksa untuk menandatangani kesepakatan-kesepakatan yang merugikan, seperti melakukan privatisasi terhadap akses sumber daya alam yang seharusnya diberikan kepada seluruh rakyat. Kita sekarang  bingung mengapa pemerintah harus mengurangi subsidi terhadap BBM. Dengan dalih bermacam-macam, sebenarnya peran pemerintah untuk menjamin kesejahteraan bangsa telah dilucuti dan digantikan dengan praktek ekonomi yang berkiblat pada akumulasi laba dan laba dan laba. Kserakahan ini digambarkan oleh karya Luken yang menggambarkan bagaimana mata dan mulut manusia telah dibutakan oleh uang. Ah, karya yang sangat menyentuh!  Ini adalah bentuk fundamentalisme ekonomi abad 21 yang telah meminggirkan sebagian besar umat manusia ke jurang kemiskinan. Bukan hanya itu saja, bumi yang berisi keragaman hayati pun dikorban demi keuntungan jangka pendek. Susan George mengemukakan dalam Lugano Report (1999) bahwa “kapitalis yang paling cerdas pun harus menyadari bahwa akumulasi laba tanpa tanggung jawab ini tidak bisa diteruskan”…..namun laporan ini pun mengatakan bahwa “tak ada manfaatnya meminta korporasi transnasional mengurangi praktik itu – kita harus MELAWANNYA.” Banyak orang meneriakkan slogan “another world is possible.” apakah itu mungkin ? aku percaya, itu mungkin.

 

Aku tidak bisa membahas seluruh karya satu persatu, tetapi tema-tema yang diangkat oleh Kelompok Sepi begitu menggugah kesadaran kita. Penghayatan mereka terhadap berbagai persoalan yang sedang melanda masyarakat di sekelilingnya sungguh terasa di setiap karyanya. Artinya mereka melukis dengan membawa sebuah gagasan dan keberpihakan yang jelas. Di tengah eforia “pasar”seni rupa Indonesia yang telah memompa karya-karya bagus tapi miskin makna, maka karya-karya Kelompok Sepi tetap kuat dengan gagasan-gagasannya yang hendak disampaikan. Terkadang aku berpikir, apakah masih perlu menggunakan istilah “pinggiran” yang berarti ada pusat? Bukankah kehidupan kita sudah begitu berjejaring satu sama lain sehingga tidak ada yang benar-benar terpisah ?  atau apakah istilah ini tetap perlu digunakan untuk selalu menjadi pembeda dari  arus utama apapun ? lalu saya berpikir  bahwa kelompok  seni pinggiran mungkin tetap perlu ada untuk menjadi inspirasi bahwa another world is possible.  another art is possible ? Untuk selalu mendorong kita untuk kembali melakukan refleksi, ketika kita terjebak di suatu pusaran dunia yang semakin tidak tentu arahnya.  *** (Ade Tanesia)

 

 

~ by adetanesia on August 15, 2008.

One Response to “another art is possible”

  1. saya suka tulisan ini dan setuju bahwa another art is possible. jadi penasarn, seperti apa sih karya kelompok Sepi.

Leave a Reply