Menjadi Bintang di Negeri Orang

Posted: April 23, 2007 in Uncategorized

Oleh Ade Tanesia

Penonton yang memadati stadion Sleman serempak menyerbu lapangan saat PSS Sleman (Perserikatan Sepak Bola Sleman) memenangkan pertandingan dengan Persikota Tangerang dengan angka 2-1. Para pemain pun langsung dikerubuti untuk dimintai tanda tangan.  Tidak terkecuali Anderson, pemain asal Brazil, yang saat itu tidak turun main. Mereka yang kebanyakan anak-anak kecil dan remaja, berdesak minta tanda tangan Anderson. Dengan santai dan ramah, Anderson melayani mereka.

Hal yang sama juga terjadi saat PSS Sleman mengadakan kampanye cinta sepak bola ke sekolah-sekolah di Sleman. Para siswa, terutama remaja putri banyak yang histeris menyambut para pemain sepak bola asing yang tampan seperti Marcelo dari Brazil. Baju Anderson Da Silva pun penuh dengan tanda tangan para penggemarnya. Inilah fenomena pemain sepak bola asing di Indonesia, mereka menjadi idola, yang belum tentu mereka rasakan saat bermain di negaranya sendiri.

Masyarakat Indonesia memang sangat gemar dengan olah raga sepak bola. Jika memasuki kampung-kampung, maka sepak bola menjadi olah raga favorit anak kecil hingga orang dewasa. Hampir seluruh program televisi swasta pun menyajikan tayangan-tayangan sepak bola berbobot seperti di Italia, Eropa dan Amerika Latin. Banyak orang yang begitu hafal nama-nama pemain sepak bola dunia. Juga tak ketinggalan para wanita remaja yang mengidolakan pemain tampan seperti David Beckham dari Eropa atau pemain Italia lainnya. Merchandize kaos, poster, stiker, sampai korek api bergambarkan para pemain idola dan klub-klub terkenal sangat laris di pasaran. Tak hanya gemar sepak bola klub dunia, masyarakat pun mendukung klub-klub sepak bola nasional yang sebenarnya mutunya kurang bagus. Biasanya mereka mendukung klub dari daerah asalnya. Apalagi dengan keberadaan pemain asing, masyarakat semakin tertarik dan fanatik dengan klub-klub nasional yang menjadi favoritnya. Adanya pemain asing seakan mendekatkan impian mereka tentang para bintang sepak bola dunia yang selama ini hanya bisa dinikmati lewat layar kaca.

Animo masyarakat ini telah mendorong klub untuk meningkatkan dirinya, salah satunya dengan menggunakan pemain asing. Kadang memang menjadi sangat ironis, karena di satu sisi kehidupan masyarakat pada umumnya sedang krisis, namun di sisi lain dunia sepak bola semakin marak dengan boom pemain asing yang tentunya membutuhkan uang milyaran rupiah. Di awal tahun 2004 ini saja ada sekitar 84 pemain asing yang bermain di 18 klub divisi utama di Indonesia. Pembengkakan jumlah pemain asing dari tahun-tahun sebelumnya disebabkan peraturan baru dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang memperbolehkan setiap klub sepak bola untuk mengontrak maksimal lima pemain asing dengan rata-rata nilai kontraknya per orang mencapai lebih dari Rp. 100 juta. Misalnya PSM Makasar (Perserikatan Sepak bola Makasar) , telah menyiapkan dana transfer pemain asing sebesar Rp.3,5 miliar. Mereka ingin menambah dua pemain asing, setelah satu pemainnya telah hengkang ke klub lain, persebaya, dengan nilai kontrak sebesar Rp. 500 juta. Perputaran usang untuk pemain asing ini memang luar biasa. Tidak heran jika banyak pemain sepak bola dari Brazil, Cile, Afrika, Uruguay, yang datang mengadu nasib ke Indonesia.

***
Anderson Da Silva (28 tahun), asal Brazil, baru saja bangun tidur ketika saya temui di rumahnya di kawasan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bersama tiga temannya dari Brazil, Anderson Da Silva disewakan rumah oleh klub PSS Sleman. Minggu adalah hari libur, hari untuk istirahat bagi mereka. Dengan bahasa Indonesia yang sudah cukup fasih, Anderson mempersilahkan kami untuk minum kopi bersamanya. Banyak orang yang bilang bahwa Anderson adalah salah satu pemain yang sangat hangat dan pintar bergaul. Itu pula yang kesan saya saat pertama kali berjumpa dengannya. Tanpa canggung, ia pun mulai bercerita tentang awal mulanya merantau ke Indonesia.

Saat itu tahun 2002. Anderson bertemu dengan kawan karibnya bernama Arioso Rivera di Brazil. “Apakah kamu berani untuk bermain sepak bola di Indonesia?”, tanya Arioso. “Berani saja, kenapa tidak?”, Anderson menjawab tantangan Arioso. Obrolan di Brazil bukan sekedar basa basi. Arioso Rivera yang pernah menjadi pemain di klub Pelita Jaya Jakarta dan telah menikah dengan wanita Indonesia menelpon Anderson kembali saat dirinya telah kembali di Indonesia. Ia pun dibelikan tiket dan siap terbang ke Indonesia. “Dulu saya tidak tahu sepak bola indonesia. Yang saya tahu ini negara yang indah. Saya pergi tanpa bisa satu kata pun bahasa Inggris atau Indonesia”, kenangnya. Di Indonesia, Anderson menginap di kediaman Arioso, dan melalui temannya ia akhirnya di test dan bisa masuk di klub PSS Sleman. “Waktu pertama kali di PSS Sleman, sudah ada pemain brazil namanya Deca Dos Santos. Dia seperti kakak sendiri. Dulu saya sulit makan di Indonesia, karena rasanya pedas-pedas. Kemudian Deca mengajak saya makan ke tempat-tempat yang enak sehingga berat badan saya naik lagi. Deca pula yang mengajari saya bahasa Indonesia. Saya hanya perlu waktu 6 bulan untuk bisa bahasa Indonesia”, ungkap Anderson, bapak dari seorang anak yang tetap tinggal di Brazil.

Seperti kebanyakan orang Brazil lainnya, Anderson sejak kecil memang sudah mencintai sepak bola. Ia mulai masuk klub sejak usia 13 tahun. Sempat pula di usia 22 tahun ia masuk klub asuhan mantan sepak bola dunia, Zico. Nama klubnya adalah Club Football Zico yang mempunyai kerjasama dengan sepak bola di Jepang. “Untuk bisa masuk klub bagus di divisi utama Brazil sangat sulit. Persaingannya sangat ketat. Kalau saya bisa masuk ke sana, mungkin tidak perlu lagi cari uang dan berkarir di negara lain. Klub di Brazil sudah sangat bagus, dan dari sana banyak pemain dunia”, ungkapnya. Menurut Anderson, Indonesia sebenarnya bisa menjadi lebih profesional jika sudah ada klub berdasarkan kelompok usia. “Di sini orang baru mulai main bola usia 17 atau 18. Itu sebenarnya sudah terlambat. Kalau di sana, sudah ada liga sepak bola untuk anak-anak usia 7 dan 8 tahun. Kemudian liga junior untuk usia 13-17 tahun, ada lagi liga untuk kelompok usia 17-20 tahunan. Pemain bola sudah dilatih sepak bola sejak kecil, jadi ketika usia 17 tahun, dia sudah tahu seluruh tata cara dan kode etik bermain bola”, ungkap Anderson. Untuk hidup, Anderson sangat menikmati kehidupannya di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. “Saya suka sekali Yogya dan tidak berpikir untuk pindah klub. Yogya tidak terlalu sepi, tapi juga tidak seperti Jakarta. Wah kalau di Jakarta, uang saya bisa cepat habis. Di sini lebih baik, masih bisa tabung untuk anak di Brazil. Saya sudah bisa membeli rumah di sana”, ujar Anderson tertawa. Ia memang tidak mau berterus terang tentang gajinya, namun menurut pengurus PSS Sleman, gaji pemain asing sekitar Rp. 12-15 juta dengan nilai kontrak rata-rata lebih dari Rp. 100 juga. Memang nilai kontrak dan gaji setiap pemain berbeda-beda, itu sebabnya mereka enggan menjawab saat ditanyai soal gaji, karena tidak enak dengan pemain lainnya. Di luar kehidupan sepak bola, Anderson dan teman-temannya kadang pergi ke pub, meluangkan waktunya dengan main bilyar, atau sekedar masak-masakan brazil dan bermain play station di rumahnya. Menurutnya, hubungannya dengan pemain lokal sangat baik. Kalau pun ada pembicaraan tersembunyi atau gosip tentang dirinya dan teman-temannya, tidak jarang mereka langsung membuka persoalan. “Orang di Brazil memang lebih terbuka. Waktu pertama kali di sini, saya sedikit bingung apakah orang takut atau tidak suka dengan saya. Tetapi biasanya setelah mereka tahu bahwa saya pemain bola dari Brazil, biasanya langsung baik dan ingin bicara banyak dengan saya. Sempat satu kali saya naik taksi. Saya perhatikan supir taksinya sangat tegang. Setelah turun, saya bertanya apakah ada masalah. Lalu dia tanya asal saya dan setelah tahu bahwa saya dari Brazil, wajahnya langsung ramah dan sangat baik. Ternyata dia punya pengalaman buruk dengan orang Nigeria, sehingga dia agak takut dengan orang kulit hitam. Tapi saya jelaskan bahwa pengalaman buruk yang dirasakan bukan disebabkan seseorang berkulit hitam atau bukan.,” tuturnya. Anderson juga cukup prihatin dengan kondisi di Indonesia dimana orang lebih banyak memikirkan dirinya sendiri. Ia bercerita bahwa dalam dunia sepak bola di Brazil, setiap pemain bola dari berbagai klub biasanya menyisihkan bonusnya untuk diberikan pada sekolah atau panti-panti asuhan. Biasanya setiap satu tahun sekali, setiap klub menggelar pertandingan dimana penontonnya hanya perlu membayar dengan satu bungkus makanan. Lalu seluruh makanan tersebut akan diberikan pada orang miskin. Kegiatan amal nampaknya telah menjadi bagian dari dunia sepak bola Brazil, sehingga ketika mereka diminta untuk ke sekolah-sekolah mensosialisasikan sepak bola, mereka melakukannya dengan senang hati. Untuk Anderson, bermain sepak bola di negeri manapun tetap menyenangkan. Setiap namanya tertulis di media massa, maka dengan rajin ia akan mengklipingnya. “Mama menyuruh saya untuk mengumpulkan koran atau majalah yang memuat berita atau foto saya. Saya punya anak, nanti biar dia lihat ayahnya di media”, ujarnya sambil tertawa. Ketika ditanya apakah dirinya ingin pindah ke klub lain, Anderson hanya menjawab bahwa dirinya datang untuk mencari uang. Kalau ada klub yang menawarkan gaji lebih tinggi, mungkin saja dia akan pindah. “Tapi sampai saat ini saya tidak pikir untuk pindah. PSS Sleman adalah klub yang bagus”, ungkapnya tegas.

***

Jika Anderson Da Silva sudah dikontrak lebih dari satu tahun oleh klub PSS Sleman, maka banyak pemain sepak bola asing yang hanya dikontrak satu tahun, bahkan ada yang hanya 6 bulan. Juan Duran Nunez (33 tahun) asal Cile misalnya, ia telah tiga kali ganti klub, yang terakhir ia bermain untuk PSIM (Perserikatan Sepak Bola Indonesia Mataram) di Yogyakarta. Sebuah klub yang peringkatnya ada dalam divisi 1, satu tingkat di bawah divisi utama.

Juan Duran Nunez datang ke Indonesia sejak tahun 2001 melalui seorang broker pemain sepak bola asal Cile bernama Nelson Sanchez. Awalnya Juan dikontrak untuk klub Persijap Jepara selama satu musim kompetisi yaitu satu tahun. “Saat itu saya masih lewat broker, jadi harus memberikan komisi. Tapi setelah dari Persijap Jepara (perserikatan sepak bola indonesia jepara), saya tak perlu lagi broker, langsung saja bernegosiasi dengan klub. Itu lebih enak”, ungkap Juan. Setelah satu tahun di Jepara, ternyata pelatihnya pindah ke Persela Lamongan (Perserikatan Sepak Bola Lamongan), Jawa Timur. Ia pun diminta oleh pelatihnya untuk memperkuat klub di Lamongan selama satu tahun. Usai kontrak di Lamongan, Juan pulang ke Cile untuk beberapa bulan. Ia belum tahu apakah kontraknya akan diteruskan atau tidak, tetapi saat ia kembali ke Indonesia, di klub Lamongan sudah terisi pemain asing baru. Akhirnya pada akhir desember 2003 Juan mencoba ikut dengan PSIM di Yogyakarta ini. Sebelum ke Indonesia, Juan sempat bermain di klub Belgia dan Swiss. Oleh karena sakit, ia harus pulang ke negaranya.

Tiga puluh tahun tentunya bukan lagi usia puncak bagi seorang pemain sepak bola. Juan pun tertarik untuk datang ke Indonesia. “Ketika muda saya masih punya banyak cita-cita, tetapi sekarang waktunya sudah lewat. Yang penting saya bermain sebaik mungkin di setiap klub”, tukasnya. Menurut Juan, pemain lokal Indonesia sebenarnya banyak yang berbakat, tetapi kendala utamanya adalah disiplin. “Kalau di Cile kita tidak bisa terlambat. Di sini mulai latihan jam 07.00 pagi, tapi jam 07.30 masih ada yang tidur. Pelatih di sini baik-baik, saya jarang dimarahi”, ungkapnya tertawa. Sepak bola Cile memang lebih keras dalam mendidik pemain. Seorang pemain bola yang ketahuan berbuat curang, atau memukul, pasti akan mendapat hukuman yang cukup berat. Sementara di Indonesia dia sempat terkejut ketika para pemain bisa bersama-sama memukuli wasit. “Wah, kalau di Cile, pemain seperti itu sudah diskors tidak bermain hingga tiga tahun”, ujarnya. Dan yang menarik buat Juan adalah praktek supranatural dalam dunia sepak bola. “saya pernah lihat, sebelum pertandingan ada orang yang mengencingi gawang. Ternyata katanya itu dukun yang hendak menggunakan kekuatan supranatural agar tim jagoannya menang. Di Cile tidak ada hal seperti ini”, ujarnya terheran-heran.

Yang juga disayangkan Juan adalah masalah suap pada wasit. “Biasanya tuan rumah pasti menang. Jarang sekali ada klub yang menang di kandang lawan dan itu pasti karena wasitnya dibayar. Sepak bola Indonesia tidak mungkin berkembang kalau masih ada kasus suap menyuap seperti ini”, keluhnya. Memang dalam dunia sepak bola Indonesia ada istilah mafia wasit, artinya terjadi praktek kolusi antara petaruh dan pemilik atau pengelola klub dengan wasit untuk memenangkan satu tim. Tentunya di sini ada uang yang akan dibayar pada wasit. Hal ini sudah menjadi rahasia umum. Ali Shaha pemain bola asal Tanzania yang juga ikut memperkuat tim PSIM juga sangat paham kondisi suap menyuap semacam ini. “Inilah Indonesia’, tukasnya singkat.

Ali Shaha sudah berada di Indonesia sejak tahun 1997. Sebelum di Indonesia ia bermain di klub di Afrika Selatan selama satu tahun. “Di sana sepak bolanya bagus, tetapi kehidupannya tidak nyaman, terlalu banyak kriminalitas. Rasanya was was saja, apalagi kalau malam hari”, ujar Ali Shaha saat saya temui di mess PSIM. Kemudian melalui agen, orang Kamerun yang pernah main di klub Pelita Jaya, Indonesia, Ali Shaha tertarik untuk mengadu nasib di Indonesia. “Semua pemain bola di Tanzania ingin sekali bermain di luar negeri. Kalau di Tanzania kita menjadi pemain lokal, sementara di luar negeri kita menjadi pemain asing dengan bayaran yang lebih bagus”, ungkapnya. Ali Shaha sudah pernah bermain di 5 klub di Indonesia, yaitu di Persikota (Perserikatan sepak bola Idnonesia kota Tangerang) Tangerang, Persiraja Banda Aceh), Persebaya dan yang terakhir di PSIM untuk tahun 2004 ini. Ia sempat pergi ke Dubai, namun hanya dikontrak selama 6 bulan. “ Di Dubai tidak enak, rasanya kita sendiri sekali. Berbeda dengan Indonesia, orang-orangnya lebih hangat, seperti saudara sendiri”, lanjut Ali yang baru berusia 27 tahun ini. Namun Ali Shaha agak bingung dengan sistem kontrak pemain di Indonesia. Biasanya di luar negeri, pemain bisa dikontrak lebih dari satu tahun. Ia sendiri lebih senang jika bermain di satu klub sampai 2 atau 4 tahun, karena menurutnya hal itu penting untuk memahami karakter permainan dari setiap pemain. “Kita baru saja mau belajar karakter pemain lain, tiba-tiba kontraknya sudah mau habis. Padahal yang dipentingkan dalam sepak bola adalah kerjasama serta pengenalan karakter permainan teman satu tim. Saya tidak mengerti mengapa klub di Indonesia biasanya kontrak hanya satu tahun”, lanjut Ali Shaha yang ingin menikah dengan wanita Indonesia.

Walaupun sempat dua tahun tinggal di Banda Aceh, Ali Shaha dan Juan Duran sempat mengalami masalah saat PSIM akan bertanding di Banda Aceh. Ada dokumen resmi yang belum dilengkapi oleh manajer tim sehingga keempat pemain asing dari PSIM harus meringkuk satu malam di kantor imigrasi. “Wah saat itu kita hanya tidur di kamar kecil, seperti penjara saja. Tentara bilang orang asing berbahaya di Aceh, tapi ternyata semua aman-aman saja”, ungkap Juan Duran. Ali Shaha sendiri tidak pernah mengalami hal yang membahayakan selama dirinya tinggal di Aceh. “Di daerah mungkin berbahaya, tapi Banda Aceh sangat aman”. Dessy Arfianto, salah satu pengurus tim PSIM juga sangat lega karena para pemain asing ini mau mengerti keadaan di Indonesia, artinya mereka tidak protes atau marah-marah.

Menurut Dessy Arfianto, empat pemain asing yang kini di kontrak oleh PSIM mempunyai keterampilan yang bagus dan karakter yang bisa diajak kerjasama. Sejak tahun 2004, PSIM telah mengontrak 4 pemain, yaitu dua dari Cile dan dua dari Tanzania. Proses perekrutan pemain asing ini dilakukan PSIM melalui broker dan pemain. Jadi misalnya Juan Duran membawa temannya dari Cile, demikian pula Ali Shaha. Posisi sebagai broker ini rupanya juga dipikirkan oleh Juan dan Ali jika mereka sudah tidak memungkinkan lagi bermain sepak bola. Menurut Juan Duran, banyak sekali klub di Indonesia yang ditipu oleh agen. “Mereka mendatangkan pemain dari Cile, padahal pemain tersebut tidak terdaftar dalam federasi sepak bola di Cile”, ungkapnya kesal. Meskipun enggan menceritakan secara detil, Juan Duran sendiri mengalami masalah dengan agen, sehingga jika dirinya menjadi agen maka dia berjanji tidak akan memeras pemain. “Kadang broker itu mengambil komisi sampai 100%, itu keterlaluan, padahal persentasi untuk pemain seharusnya lebih besar”, ungkapnya. Dessy Arfianto juga sering mendengar ulah agen yang merugikan pemain. Misalnya ada agen yang hanya memberikan 25% dari nilai kontrak yang dibayarkan ke pemain dalam jangka waktu 3 tahun. Persoalan agen ini nantinya juga akan diatur oleh federasi sepak bola di Indonesia, yaitu PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia). Kelak setiap klub hanya boleh mengambil pemain dari agen yang sudah diakui oleh FIFA. Hal ini untuk mengantisipasi agen atau pemain asing yang “nakal”. Sebagai klub, Dessy Arfianto juga mengungkapkan pentingnya kewaspadaan terhadap pemain asing. PSIM sendiri misalnya, membayar kontrak pemain dalam tiga termin, yaitu saat tanda tangan kontrak sebesar 25%, kemudian saat musim kompetisi di mulai diberikan 50%, dan yang terakhir 25%. “Banyak pemain asing yang ketika di test sangat bagus, tetapi setelah masuk mainnya asal-asalan. Ini harus kami antisipasi, salah satunya dengan cara tidak langsung membayar seluruh nilai kontraknya”, ungkap Dessy. Untuk mengecheck kualitas pemain asing, selain ada test kesehatan, keterampilan dan seleksi administrasi, biasanya klub akan minta rekomendasi dari PSSI karena ada pemain asing yang sudah dimasukkan dalam daftar hitam, karena tidak memberikan contoh yang baik bagi pemain lokal, seperti kasus berkelahi, atau hanya sekedar cari uang tetapi tidak menunjukkan kualitas permainan yang bagus. Menurut Dessy Arfianto, PSIM juga pernah mengalami kesulitan dengan seorang pemain asal Brazil (Dessy tidak bersedia menyebutkan namanya). “Waktu itu kita sempat mengontrak pemain Brazil. Dia punya skill bagus, tetapi pola hidup dan wataknya tidak cocok dengan budaya di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Akhirnya kita harus putuskan kontraknya. Dia sangat emosional, kadang memaki temannya sendiri. Di luar lapangan pun ia tidak bersikap ramah. Apalagi kita tinggal di Yogya yang toleransinya masih kuat. Misalnya ditanya, tadi bertanding menang apa kalah? Apa susahnya sih jawab “menang”, tapi dia jawabnya ketus “baca aja sendiri di koran”. Hal sepele itu jadi penting, karena nanti penonton atau publik Yogya tidak suka. Tentunya ini merugikan bagi citra PSIM. Selain teknis, pemain asing juga harus bisa adaptasi dengan kebudayaan di sini.”, jelas Dessy Arfianto. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan dalam merekrut pemain asing, hal itu disebabkan klub juga telah mengeluarkan biaya yang cukup besar. Untuk PSIM saja, nilai kontraknya rata-rata Rp. 100 juta, sementara gaji pemain asing rata-rata sebesar Rp. 10 juta per bulannya.

***

Sepak bola sebagai entertainment memang telah disadari oleh banyak klub di Indonesia. PSS Sleman yang dulunya agak alergi untuk mengontrak pemain asing, akhirnya sejak tahun 2002 mulai memakainya. Tak hanya alasan untuk menarik penonton, di tahun 2001 PSS Sleman sempat mengalami penurunan tingkat karena rupanya kebanyakan lawannya telah menggunakan pemain asing. “Saat itu kita berpikir bahwa dukungan dari masyarakat sendiri sudah demikian positif, jadi jangan sampai animo ini turun. Untuk menggerakkannya lagi akan memakan biaya yang besar. Akhirnya kita putuskan untuk merekrut pemain asing pada tahun 2002. Kebetulan pemerintah kabupaten Sleman mulai menyadari bahwa sepak bola dapat mengangkat daerahnya, sehingga mereka mau memberikan subsidi dana yang lebih besar”, ungkap pak H. Subardi, pengelola PSS Sleman. Daniel Roekito, pelatih PSS Sleman juga membenarkan pendapat pak Subardi tentang besarnya minat masyarakat terhadap sepak bola jika ada pemain asing. Mereka dimintai tanda tangan seperti layaknya seorang selebritis. Namun menurut pak Daniel, tidak jarang pemain yang akhirnya bersikap sombong. “Mereka mungkin di negaranya bukan apa-apa, sekarang di sini menjadi bintang. Dulu waktu saya melatih di klub Bontang, ada pemain asal Kamerun yang skill nya sangat bagus. Tetapi dia besar kepala. Suatu waktu kita makan bersama di Balik Papan, eh dia mulai aneh-aneh minta Pizza dan Mc Donald. Dimana kita mau cari makanan semacam itu di Balik Papan ? Kan waktu itu belum ada. Akhirnya saya bilang saja….’eh kamu di Kamerun makan apa? Sekarang di sini jangan macam-macam minta makanan yang nggak ada. Makan apa adanya atau saya pulangkan kamu’….Wah dia langsung minta maaf sama saya. Banyak pelatih di sini merasa sungkan dengan pemain asing. Itu tidak boleh terjadi, karena kita adalah pelatih dan harus mendidik mereka. Bola adalah permainan tim, skill yang bagus belum jaminan tanpa kerjasama tim yang baik. Tapi pemain asing yang kini ada di PSS Sleman untungnya cukup profesional, Ini yang harus dicontoh oleh pemain lokal”, ungkap Daniel.

***

Banyak pendapat yang cukup sinis dengan merebaknya pemain asing. Ada yang beranggapan bahwa keberadaan mereka akan menggeser pengembangan pemain lokal. Juga pendapat yang mengatakan bahwa pemain asing tidak akan membantu apapun selama kasus korupsi masih menggerogoti dunia sepak bola nasional. Tapi mungkin dengan datangnya pemain dari berbagai belahan dunia, timbul rasa malu bagi sepak bola Indonesia jika tidak bisa “membersihkan” segala “kotoran” yang ada di dalamnya. Juga tentunya bisa menjadi inspirasi bahwa sebagai pemain bola, seseorang bisa bekerja di seluruh dunia. Setidaknya kita tidak lagi mengekspor pembantu rumah tangga, melainkan bisa ekspor pemain bola, seperti Brazil. Entah kapan itu bisa terlaksana…..menjadi “bintang” di negeri orang. Bukan menjadi “babu” di negeri orang.

Comments
  1. Andika says:

    Wah, ulasan yang bagus. Dari pemain asing memang seharusnya bisa dibuat pembelajaran demi kemajuan persepakbolaan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s